1.
Estetika dan
Filsafat Seni
Estetika dan filsafat seni menciptakan materi yang
memungkinkan seni untuk membawa kita di sekitar re-mistifikasi realitas,
untuk menciptakan dunia yang palsu dan untuk menantang definisi “nyata”.
lalu bagaimana membuat status khusus menciptakan kualitas estetika otonom seni,
memberi kualitas kesesuaiannya, menekankan bahasa lain yg praxis
dan menerangi realitas tanpa harus terganggu di dalamnya.
Kekuatan otonomi seni adalah kemampuannya untuk mengatasi kenyataan
tertentu yang praxis menyatakan itu, kenyataan bukan hanya
pribadi tetapi juga meluas di lingkungan, mewakili kemanusiaan di mana pun itu
nasib berlangsung secara universal, jauh melampaui masyarakat kelas khusus.
otonomi seni tidak datang untuk melayani kelas ini atau itu, tapi untuk
melayani universal, ketika kelas kebudayaan
itu sendiri adalah bagian dari dunia universal dimana alam sebagai bingkai.
Tapi ini adalah benturan yang dinamis antara individu dan masyarakat,
konten sosial selalu tetap sekunder pada nasib individu, estetika “asimilasi”
di mana dinamika sosial dan membuatnya kisah individu yang mewakili kebudayaan,
selalu faktor manusia, nasib pribadi, sosial dan pribadi (sering diabaikan saat
bekerja) tapi sangat penting. marcuse bertentangan estetika marxis mengutuk
konversi informasi sosial, sublimasi realitas, konversi dari konflik dan
konflik sosial dan takdir pribadi dan tentu saja virtual otonomi.
Ini adalah tabrakan antara dua dunia yang terpisah masing-masing dengan
dunia kita sendiri. sastra menciptakan suatu realitas yang unik, yang tetap
berlaku bahkan ketika ia menolak realitas dibentuk. nilai hanya baik dan yang
jahat baik dan jahat versus nilai sosial. marcuse berpendapat bahwa peningkatan
kesenjangan tidak akan pernah berubah, bahkan dalam rilis baru. juga masyarakat
yang tampaknya utopia terorganisir dengan prinsip
ideal realitas baru, bahkan kemudian tidak mencapai akhir seni, dan
kita bisa mengatasi tragedi itu, dan meredakan dionisia dan apollo. seni tidak
dapat melepaskan diri dari sumber-sumber bantalan bukti dasarnya materialisme
dialektika – kegigihan non identitas antara subjek dan objek, antara individu.
Seni berdasarkan kebenaran sejarah universal trans berbicara dengan
kesadaran, tidak hanya kesadaran dalam kelas, tetapi kesadaran orang sebagai “seks.”
siapakah subyek dari kesadaran ini? mata estetika marxis –
subjek adalah proletariat, satu-satunya kelas yang tidak menarik dalam melestarikan
kebudayaan yang ada dan bebas untuk melepaskan semua umat manusia. marcuse
sadar (bawah Llusian goldman) mengubah situasi sosial, integrasi dari
kapitalisme monopoli kaum proletar dikembangkan, kesadaran diubah juga
berpendapat bahwa meskipun perubahan sosial, kesadaran berubah, seni datang
untuk membentuk pikiran individu bersatu dalam mengakui perlunya untuk rilis
umum – apapun kelas mereka.
Seni
itu subjek dimana otentik adalah anonim dari segi
kelas. dia tidak cocok dengan subyek potensi aksi revolusioner (proletariat).
sehingga seni akan membantu “masyarakat”, sambil mempertahankan otonomi dan
kebenaran penting di pusatnya – untuk membawa kepada pentingnya sebuah kesadaran,
bertentangan dengan hukum dan terbentur realitas. seni dapat berkontribusi pada
perubahan kesadaran dan mendesak laki-laki dan perempuan yang dapat mengubah
dunia. ini basis massa, kebutuhan istilah untuk perjuangan politik, yang harus
disertai dengan perubahan dalam kesadaran.
Nilai tidak hanya perubahan dalam kesadaran politik tapi “sistem
kebutuhan” baru. dibebaskan dari sistem aturan eksploitasi, kecerdasan
sensitif, imajinatif. seni ini berbeda dengan pekerjaan produksi dan praxis
seks politik, kualitas subjektif berdasarkan yang ahteranccandecia intrinsik.
surealisme, tahap revolusioner, adalah contoh konflik esensial antara seni dan
realisme politik. aliansi antara “masyarakat” seni adalah – bahwa orang akan
berhenti dari konsep dan pencitraan yang dipaksakan dari atas, akan mengalami
dimensi yang berbeda dan kualitas (seni murni) akan permintaan sendiri dalam
subjektivitas mereka. internal agak subjektif (bertentangan dengan teori
marxis) dapat menjadi dasar ruang internal dan eksternal yang membalikkan
pengalaman di kepala, untuk penampilan dunia lain. dunia individu (bukan massa)
yang berhubungan dengan mereka secara bebas.
Klaim marcuse brikutnya seni sejati tidak hanya diungkapkan dalam bentuk
dan gaya. seni sejati memiliki otonomi abstrak, ilusi, penemuan sesuatu yang
baru, tetapi memilih teknik terputus dari, atau teknik tanpa isi, bentuk tanpa
substansi, maka otonomi tersebut dalam seni mengambil dari power tersebut.
tergantung pada budaya dan seni yang ada. (seperti dicatat sebelumnya, seni tergantung
praxis, dunia materi, tapi masih terhubung tergantung pada
peralatan technologi, cara sendiri dll) adalah seni mitra. dengan kebudayaan,
realitas material.
Pemisahan seni tidak mutlak. seni tentu bagian dari praktek yang ada,
hanya bagian itu berbicara melawan dia, terhadap praktek yang ada. estetika
bentuk membuat konten akrab dan mengalami kekuatan keterasingan akrab,
meningkatkan kesadaran dan memimpin persepsi baru. estetika
bentuk yang bertentangan dengan isi, tetapi sebaliknya – bentuk menjadi konten,
dan konten mendapatkan dalam bentuk (baru). Akan melalui proses pembuatan bahan
bahan sublimasi yang merupakan “titik transformasi estetika awal,
menjadi sesuatu yang lain, suatu realitas lain dari subjek untuk aturan internal”
membahas bentuk. gairah dan emosi, rasionalitas dan imajinasi tidak tunduk pada
bagaimana menindas masyarakat dari mereka, tetapi mereka mencari jalan mereka,
dunia seni, otonomi, membangun kembali dan memberikan kesadaran untuk mengalami
representasi indrawi terhadap – sosial. melalui gaya, melalui konfigurasi
estetika kemungkinan pembalikan nilai-nilai mereka yang ditetapkan norma-norma
dan prinsip realitas – de sublimasi sublimasi berdasarkan aslinya.
Disintegrasi larangan tabu sosial, runtuhnya pengelolaan sosial menerima
bentuk baru, kesetiaan keinginan manusia, kesadaran kota, wajah mencerminkan
dunia yang transparan. adalah representasi dengan daya tarik asing kesadaran.
ekspos dan dunia terungkap, itu mengungkapkan apa yang tersembunyi mata, dan
mematahkan apa realitas bisa bertahan, dan sebagainya – ternyata mencela nilai
estetika dan perayaan dari apa yang marah untuk ketidakadilan dan terorisme.
terjadi pada sastra khususnya media bahasa tetapi tidak tergantung dari unsur
ini atau itu, namun tergantung pada “kompleks” yang memberikan arti dan fungsi
estetika.
Karya-karya tidak puas dengan hanya mencela kenyataan, tapi seni,
kualitas yang indah, sebagai bentuk estetika, menjanjikan rilis, janji ditolak
realitas dibentuk. pekerjaan tidak ada yang bisa, tentu saja, untuk memastikan
melepaskan (tidak tanggung jawab), tetapi hanya “untuk melestarikan memori hal
masa lalu,” representasi kembali realitas. terhadap konsep tradisional yang
melihat seni sebagai ilusi, lihat marcuse memperingatkan bahwa peran seni, cara
estetika, bukan untuk meninggalkan estetika (sebagai pemikir dan seniman di
zaman modern yang melihat pendekatan anti – seni sebagai ekspresi disintegrasi
masyarakat benar dari era modern realitas, penuh niat untuk makna) , tetapi
sebaliknya “kita alami sekarang bukan penghancuran keseluruhan unit atau
kesatuan, kita mengalami kehancuran makna yang kita alami hari ini dikendalikan
oleh kekuatan yang kompleks, harmonisasi diatur dipaksa turun.
2.
Pokok-Pokok
Filsafat Seni
Dalam sejarah pemikiran seni di dunia Barat yang dimulai
sejak zaman Yunani kuno (di dunia Timur, sejarah pemikiran semacam itu hanya
muncul secara sporadis, tidak berkesinambungan, sehingga telaah filosofis
tentang seni lebih banyak dilakukan secara empiris ilmiah berdasarkan
benda-benda seni sepanjang sejarahnya; jadi, lewat sejarah seninya). Jawaban
atas pertanyaan filosofis tentang seni itu bermacam ragam dan tidak selalu
menjawab pertanyaan yang sama. Filsafat seni, yang merupakan bagian dari
estetika modern, tidak hanya mempersoalkan karya seni atau benda seni (hasil
atau produk), tetapi juga aktivitas manusia atas produk tersebut, baik
keterlibatannya dalam proses produksi maupun caranya mengevaluasi dan
menggunakan produk tersebut. Lazimnya, pemikiran tentang produk atau benda seni
disebut sebagai estetika morfologi (estetika bentuk), dan pemikiran tentang si
pembuat benda seni dan yang memanfaatkan benda seni dinamai estetika psikologi.
Khusus
pengguna karya seni masih ditelaah dalam bidang aksiologi estetik, yakni efek
seni pada manusia. Dengan demikian, sebenarnya hanya ada tiga pokok persoalan
filsafat seni, yakni seniman sebagai penghasil seni, karya seni atau benda seni
itu sendiri, dan kaum penerima seni. Namun, dari setiap instansi tadi akhirnya
berkembang pokok-pokok baru, yakni dari benda seni muncul pokok soal nilai seni
dan pengalaman seni, sedangkan dari masalah seniman dan penerima seni akan
muncul pokok konteks budaya seni. Dengan demikian, terdapat enam pembahasan
pokok dalam filsafat seni, yakni:
1. benda seni
2. pencipta seni
3. publik seni
4. konteks seni
5. nilai-nilai seni
6. pengalaman seni
BENDA SENI
Pokok persoalan seni sebenarnya karya seni yang berwujud konkret yang terindera dan teralami oleh manusia. Tanpa lahirnya benda seni tak mungkin muncul persoalan-persoalan seni di atas. Dalam pokok 'benda seni' ini dibahas material seni atau medium seni. Seni terwujud berdasarkan medium tertentu, baik dengaran (audio) maupun lihatan (visual) dan gabungan keduanya. Ini akan melahirkan bidang seni tertentu, yakni seni visual (seni rupa, seni patung, seni arsitektur) dan seni audio (seni musik, sastra) dan seni audio-visual (seni teater, seni tari, seni film). Masing-masing golongan seni tadi ditentukan bentuknya oleh material seninya atau mediumya. Tiap medium memiliki ciri khasnya sendiri dengan keterbatasan dan kelebihan masing-masing. Lazimnya penggolongan benda seni akan melahirkan ilmu-ilmu seni khusus, seperti ilmu sastra, ilmu seni tari, dan ilmu seni teater. Dalam kenyataannya, ilmu-ilmu tadi dituliskan dalam buku penuntun yang biasanya beijudul Pengantar Seni Teater, Pengantar Seni Rupa, dan sebagainya.
Dalam persoalan benda seni ini biasanya juga dipermasalahkan apakah suatu karya seni merupakan peniruan kenyataan (mimesis) atau merupakan ekspresi jiwa seniman. Debat tentang pokok persoalan ini telah dimulai sejak Plato dan Aristoteles dan tak pernah selesai sampai sekarang. Persoalan subjektivitas dalam seni (ekspresi) dan objektivitas (mimesis) berlangsung di lingkungan penciptaan (seniman) dan pengamatan (evaluasi kritikus).
Benda seni juga mempermasalahkan analisis bentuk dan isi seni. Perdebatan yang muncul di sini juga cukup melelahkan. Dan, tentu saja melelahkan karena setiap jawaban filosofis selalu bersifat mengiyakan atau menidakkan, dan orang tinggal memilih hendak berada di pihak yang mana. Kata akhir untuk persoalan ini tergantung pada 'filosofi' setiap orang. '
PUBLIK SENI
Seni bukan hanya masalah penciptaan karya seni, tetapi juga soal komunikasi dengan orang lain.-Suatu ciptaan disebut seni bukan oleh senimannya, tetapi oleh masyarakat seni dan masyarakat umumnya. Seni juga pengakuan umum. Seniman disebut seniman oleh masyarakatnya karena status yang dipeijuangkannya. Seni itu publik. Maka, soal komunikasi nilai-nilai seni menjadi persoalan seni juga, dan di dalamnya dipersoalkan empati, jarak estetik, apresiasi, institusi penentu nilai seni dalam masyarakat. Dan yang namanya 'publik seni' itu tidak selalu seluruh masyarakat, tetapi hanya sebagian saja. Maka, dipersoalkan pula karakteristik masyarakat yang dapat menerima suatu produk seni. Untuk persoalan-persoalan ini, sangatlah berperan bantuan kajian sosiologi, psikologi, dan antropologi seni.
NILAI SENI
Dengan cara ekstrem, filsuf seni Benedetto Croce mengatakan bahwa karya seni atau benda seni tak pernah ada, sebab seni itu ada dalam jiwa setiap penanggapnya. Di sini dibicarakan masalah nilai-nilai yang diciptakan sendiri oleh penanggap seni terhadap sesuatu yang diperlakukannya sebagai benda seni. Di sinilah persoalan seni paling rumit dibicarakan dalam pembicaraan mendasar tentangnya. Persoalan seni sebenarnya adalah persoalan nilai-nilai tadi sehingga dalam bidang filsafat, kajian seni dikategorikan dalam kelompok kajian tentang nilai, sejajar dengan etika dan logika.
Nilai selalu berhubungan dengan norma-norma yang esensial, juga dengan suatu kepentingan (interest) yang sifatnya sangat kontekstual, dan dengan kualitas yang amat pribadi. Kandungan nilai benda seni yang menyangkut kualitas, bersifat kontekstual dan esensial-universal ini dapat menimbulkan perdebatan yang tak habis-habisnya.
PENGALAMAN SENI
Seni bukanlah masalah komunikasi biasa seperti penyampaian informasi. Komunikasi seni adalah komunikasi nilai-nilai berkualitas, baik kualitas perasaan maupun kualitas Tebalmedium seni itu sendiri. Singkat kata, komunikasi seni adalah komunikasi pengalaman yang melibatkan kegiatan penginderaan, nalar, emosi, dan intuisi. Bahkan ada yang menyatakan bahwa hakikat seni itu pengalaman. Pengalaman seni berlangsung dalam suatu proses yang berkaitan dengan waktu. Barang siapa masuk ke dalam proses tersebut, dia akan kuyup dengan seni, seperti orang yang baru saja keluar dari marabahaya atau kemesraan bercinta.
1. benda seni
2. pencipta seni
3. publik seni
4. konteks seni
5. nilai-nilai seni
6. pengalaman seni
BENDA SENI
Pokok persoalan seni sebenarnya karya seni yang berwujud konkret yang terindera dan teralami oleh manusia. Tanpa lahirnya benda seni tak mungkin muncul persoalan-persoalan seni di atas. Dalam pokok 'benda seni' ini dibahas material seni atau medium seni. Seni terwujud berdasarkan medium tertentu, baik dengaran (audio) maupun lihatan (visual) dan gabungan keduanya. Ini akan melahirkan bidang seni tertentu, yakni seni visual (seni rupa, seni patung, seni arsitektur) dan seni audio (seni musik, sastra) dan seni audio-visual (seni teater, seni tari, seni film). Masing-masing golongan seni tadi ditentukan bentuknya oleh material seninya atau mediumya. Tiap medium memiliki ciri khasnya sendiri dengan keterbatasan dan kelebihan masing-masing. Lazimnya penggolongan benda seni akan melahirkan ilmu-ilmu seni khusus, seperti ilmu sastra, ilmu seni tari, dan ilmu seni teater. Dalam kenyataannya, ilmu-ilmu tadi dituliskan dalam buku penuntun yang biasanya beijudul Pengantar Seni Teater, Pengantar Seni Rupa, dan sebagainya.
Dalam persoalan benda seni ini biasanya juga dipermasalahkan apakah suatu karya seni merupakan peniruan kenyataan (mimesis) atau merupakan ekspresi jiwa seniman. Debat tentang pokok persoalan ini telah dimulai sejak Plato dan Aristoteles dan tak pernah selesai sampai sekarang. Persoalan subjektivitas dalam seni (ekspresi) dan objektivitas (mimesis) berlangsung di lingkungan penciptaan (seniman) dan pengamatan (evaluasi kritikus).
Benda seni juga mempermasalahkan analisis bentuk dan isi seni. Perdebatan yang muncul di sini juga cukup melelahkan. Dan, tentu saja melelahkan karena setiap jawaban filosofis selalu bersifat mengiyakan atau menidakkan, dan orang tinggal memilih hendak berada di pihak yang mana. Kata akhir untuk persoalan ini tergantung pada 'filosofi' setiap orang. '
PUBLIK SENI
Seni bukan hanya masalah penciptaan karya seni, tetapi juga soal komunikasi dengan orang lain.-Suatu ciptaan disebut seni bukan oleh senimannya, tetapi oleh masyarakat seni dan masyarakat umumnya. Seni juga pengakuan umum. Seniman disebut seniman oleh masyarakatnya karena status yang dipeijuangkannya. Seni itu publik. Maka, soal komunikasi nilai-nilai seni menjadi persoalan seni juga, dan di dalamnya dipersoalkan empati, jarak estetik, apresiasi, institusi penentu nilai seni dalam masyarakat. Dan yang namanya 'publik seni' itu tidak selalu seluruh masyarakat, tetapi hanya sebagian saja. Maka, dipersoalkan pula karakteristik masyarakat yang dapat menerima suatu produk seni. Untuk persoalan-persoalan ini, sangatlah berperan bantuan kajian sosiologi, psikologi, dan antropologi seni.
NILAI SENI
Dengan cara ekstrem, filsuf seni Benedetto Croce mengatakan bahwa karya seni atau benda seni tak pernah ada, sebab seni itu ada dalam jiwa setiap penanggapnya. Di sini dibicarakan masalah nilai-nilai yang diciptakan sendiri oleh penanggap seni terhadap sesuatu yang diperlakukannya sebagai benda seni. Di sinilah persoalan seni paling rumit dibicarakan dalam pembicaraan mendasar tentangnya. Persoalan seni sebenarnya adalah persoalan nilai-nilai tadi sehingga dalam bidang filsafat, kajian seni dikategorikan dalam kelompok kajian tentang nilai, sejajar dengan etika dan logika.
Nilai selalu berhubungan dengan norma-norma yang esensial, juga dengan suatu kepentingan (interest) yang sifatnya sangat kontekstual, dan dengan kualitas yang amat pribadi. Kandungan nilai benda seni yang menyangkut kualitas, bersifat kontekstual dan esensial-universal ini dapat menimbulkan perdebatan yang tak habis-habisnya.
PENGALAMAN SENI
Seni bukanlah masalah komunikasi biasa seperti penyampaian informasi. Komunikasi seni adalah komunikasi nilai-nilai berkualitas, baik kualitas perasaan maupun kualitas Tebalmedium seni itu sendiri. Singkat kata, komunikasi seni adalah komunikasi pengalaman yang melibatkan kegiatan penginderaan, nalar, emosi, dan intuisi. Bahkan ada yang menyatakan bahwa hakikat seni itu pengalaman. Pengalaman seni berlangsung dalam suatu proses yang berkaitan dengan waktu. Barang siapa masuk ke dalam proses tersebut, dia akan kuyup dengan seni, seperti orang yang baru saja keluar dari marabahaya atau kemesraan bercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu untuk silaturahmi kita., :)