google87cf5fafcad60e76.html Sahabat Hati Untuk Berbagi: Remaja Islam Kini dan Nanti

Minggu, 05 Oktober 2014

Remaja Islam Kini dan Nanti

By. Nadi
Ketika semua orang yang beragama Islam ditanya “apakah anda muslim?” Pasti semuanya akan menjawab ‘Iya’, tapi ketika kita ditanya “apakah anda sudah menjadi muslim sejati? “ mungkin hati kita akan merasa malu karena perbuatan kita yang masih jauh dari nilai agama, ucapan kita yang masih kotor, selalu membicarakan orang lain, menghujat orang lain,bahkan sering menentang orang tua sendiri. Ahlak kita yang sering tak terjaga, mencela, menghina hingga membuat orang lain terluka. ‘sudah pantaskah kita disebut sebagai seorang yang Islami? Hati kita sendiri yang bisa menjawabnya 
Menjadi muslim sejati adalah kewajiban bagi setiap orang yang beragama Islam, bukan hanya untuk para ustadz bukan juga untuk orang yang sudah tua, tapi bagi kita pun para remaja menjadi muslim sejati adalah kewajiban yang tak boleh dilupakan. Sungguh benar pernyataan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya , bahwa salah satu golongan manusia yang berhasil mendapat perlindungan khusus di hari Akhir adalah remaja shalih. Yaitu  "Permuda yang hatinya terikat dengan masjid " dan juga "Remaja yang tumbuh berkembang dalam ketaatan kepada Allah SWT." Sungguh sangat Istimewa menjadi seorang remaja yang memiliki integritas dan kecintaan kepada agama. Banyak orang yang mengatakan sulit untuk menjadi remaja Shalih itu, padahal kenyataannya tidaklah sesulit yang orang bayangkan. Justru sebaliknya, mudah dan menyenangkan yang paling penting ada kemauan dan pelaksanaan yang dilakukan.  Untuk menjadi remaja yang tangguh, jangan biarkan diri sendiri dibentuk oleh lingkungan yang tidak karuan. Berusahalah untuk membuat dan menciptakan lingkungan itu sendiri. Jangan mudah larut oleh suasana lingkungan, tapi buatlah agar lingkungan itu terpengaruh dengan kehadiran kita. Sebagai Remaja muslim, kajilah Islam dengan benar dan temukan nilai-nilai kebenaran di dalamnya. Jangan ikut-ikutan pada hal yang menyesatkan, apalagi sampai merugikan banyak orang. Bahkan Allah SWT pun berfirman dalam Al-Qur’an :
Kalau engkau memperturuti (keyakinan atau amalan) kebanyakan manusia di bumi ini, pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (Al-An'aam : 116)
Berbicara soal remaja, dua tahun yang lalu ada cerita tentang seorang remaja yang sangat luar biasa. Terlahir dari keluarga yang sederhana, memiliki ahlak yang mulia dan menjadikan segala aktivitasnya bernilai ibadah. Santun kepada orang tua, ramah kepada sesama dan bijaksana dalam setiap langkah usahanya. Di era gelobalisasi seperti sekarang ini banyak remaja yang terlena oleh asyiknya dunia, terjebak oleh paradigma yang membuatnya celaka dan tergusur oleh arus yang membawa dirinya ke jurang kehancuran. Tetapi beda halnya dengan remaja tadi ketika remaja lain masih senang dengan hura-hura dia sudah menyibukan dirinya dengan membantu pekerjaan orang tuanya. Ketika remaja lain senang dengan namanya pacaran, berdua-duaan, berpandang-pandangan, dia lebih senang lagi dengan malantunkan ayat Al-Qur’an, bertaqorub kepada Tuhan, bermuhasabah diri dengan renungan keimanan. Ketika masih banyak remaja muslim yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, dia sudah banyak hapalan. Ketika banyak remaja yang bangun tidur saja masih kesiangan, berangkat sekolah malas-malasan, pulang sekolah keluyuran tapi dia Sholat malam tak pernah dia tinggalkan, berangkat sekolah kepada orang tua selalu berpamitan, pulang sekolah mengamalkan kembali ilmu yang telah di dapatkan. Ketika banyak temannya yang sering menghina dan menjahilinya, dia membalasnya dengan senyuman karena dia yakin hinaan yang dia dapatkan adalah kekuatan untuk terus maju kedepan sebab Alloh SWT senang dengan orang yang penung dengan kesabaran. Ketika remaja lain asyik dengan semua permainan dan bersikap acuh kepada orang yang membutuhkan bantuan, dia justru menangis melihat perjuangan saudara seiman di palestina yang terus-terusan di serang. Ketika remaja lain masih meminta uang jajan, masih merengek meminta mainan  bahkan sering menipu orang tua untuk mendaptkan tambahan uang sakunya, dia justru sudah mulai mandiri dan membuang semua sifat gengsinya untuk mulai belajar berdagang, menabung hingga akhirnya tahun ini dia bisa berqurban dari hasil jarih payahnya sendiri yang dia kumpulkan selama dua tahun kebelakang. Subhanalloh!
Di satu sisi kita melihat dan merasakan banyak para remaja bahkan mungkin diri kita sendiri yang sudah tidak mengenal lagi nilai-nilai kebenaran, terlalu sibuk dengan mengejar kenikmatan dunia saja sedangkan akhirat sering kita lupakan. Dan di sisi lain ada seorang pemuda yang sudah menjalankan peran dan fungsinya sebagai seorang muslim sejati, setiap nafasnya adalah ibadah, setiap langkahnya adalah berkah, kekuranganya di terima dengan Qana’ah dan keyakinannya yang istiqomah. Pemuda shalih itu seharusnya diri kita sendiri yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim, sekarang bukan lagi saatnya mengatakan pengakuan tapi pembuktian sebagai seorang remaja muslim. Mari kita cambuk hati kita sendiri dengan kesadaran dan keimanan untuk membuktikan bahwa kita remaja muslim hari ini, esok dan nanti adalah rahmat bagi semua orang. Berjuang!



1 komentar:

Komentarmu untuk silaturahmi kita., :)