By.
Nadi
Ketika semua orang
yang beragama Islam ditanya “apakah anda muslim?” Pasti semuanya akan menjawab
‘Iya’, tapi ketika kita ditanya “apakah anda sudah menjadi muslim sejati? “
mungkin hati kita akan merasa malu karena perbuatan kita yang masih jauh dari
nilai agama, ucapan kita yang masih kotor, selalu membicarakan orang lain,
menghujat orang lain,bahkan sering menentang orang tua sendiri. Ahlak kita yang
sering tak terjaga, mencela, menghina hingga membuat orang lain terluka. ‘sudah
pantaskah kita disebut sebagai seorang yang Islami? Hati kita sendiri yang bisa
menjawabnya
Menjadi muslim
sejati adalah kewajiban bagi setiap orang yang beragama Islam, bukan hanya
untuk para ustadz bukan juga untuk orang yang sudah tua, tapi bagi kita pun
para remaja menjadi muslim sejati adalah kewajiban yang tak boleh dilupakan. Sungguh
benar pernyataan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya , bahwa salah satu golongan
manusia yang berhasil mendapat perlindungan khusus di hari Akhir adalah remaja
shalih. Yaitu "Permuda yang hatinya
terikat dengan masjid " dan juga "Remaja yang tumbuh berkembang dalam
ketaatan kepada Allah SWT." Sungguh sangat Istimewa menjadi seorang remaja
yang memiliki integritas dan kecintaan kepada agama. Banyak orang yang
mengatakan sulit untuk menjadi remaja Shalih itu, padahal kenyataannya tidaklah
sesulit yang orang bayangkan. Justru sebaliknya, mudah dan menyenangkan yang
paling penting ada kemauan dan pelaksanaan yang dilakukan. Untuk
menjadi remaja yang tangguh, jangan biarkan diri sendiri dibentuk oleh
lingkungan yang tidak karuan. Berusahalah untuk membuat dan menciptakan
lingkungan itu sendiri. Jangan mudah larut oleh suasana lingkungan, tapi
buatlah agar lingkungan itu terpengaruh dengan kehadiran kita. Sebagai Remaja
muslim, kajilah Islam dengan benar dan temukan nilai-nilai kebenaran di
dalamnya. Jangan ikut-ikutan pada hal yang menyesatkan, apalagi sampai
merugikan banyak orang. Bahkan Allah SWT pun berfirman dalam Al-Qur’an :
Kalau engkau memperturuti (keyakinan atau amalan)
kebanyakan manusia di bumi ini, pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah. (Al-An'aam : 116)
Berbicara soal remaja, dua tahun yang lalu
ada cerita tentang seorang remaja yang sangat luar biasa. Terlahir dari
keluarga yang sederhana, memiliki ahlak yang mulia dan menjadikan segala
aktivitasnya bernilai ibadah. Santun kepada orang tua, ramah kepada sesama dan
bijaksana dalam setiap langkah usahanya. Di era gelobalisasi seperti sekarang
ini banyak remaja yang terlena oleh asyiknya dunia, terjebak oleh paradigma
yang membuatnya celaka dan tergusur oleh arus yang membawa dirinya ke jurang
kehancuran. Tetapi beda halnya dengan remaja tadi ketika remaja lain masih senang
dengan hura-hura dia sudah menyibukan dirinya dengan membantu pekerjaan orang
tuanya. Ketika remaja lain senang dengan namanya pacaran, berdua-duaan,
berpandang-pandangan, dia lebih senang lagi dengan malantunkan ayat Al-Qur’an,
bertaqorub kepada Tuhan, bermuhasabah diri dengan renungan keimanan. Ketika masih
banyak remaja muslim yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, dia sudah banyak
hapalan. Ketika banyak remaja yang bangun tidur saja masih kesiangan, berangkat
sekolah malas-malasan, pulang sekolah keluyuran tapi dia Sholat malam tak
pernah dia tinggalkan, berangkat sekolah kepada orang tua selalu berpamitan,
pulang sekolah mengamalkan kembali ilmu yang telah di dapatkan. Ketika banyak
temannya yang sering menghina dan menjahilinya, dia membalasnya dengan senyuman
karena dia yakin hinaan yang dia dapatkan adalah kekuatan untuk terus maju
kedepan sebab Alloh SWT senang dengan orang yang penung dengan kesabaran. Ketika
remaja lain asyik dengan semua permainan dan bersikap acuh kepada orang yang
membutuhkan bantuan, dia justru menangis melihat perjuangan saudara seiman di
palestina yang terus-terusan di serang. Ketika remaja lain masih meminta uang
jajan, masih merengek meminta mainan bahkan sering menipu orang tua untuk
mendaptkan tambahan uang sakunya, dia justru sudah mulai mandiri dan membuang
semua sifat gengsinya untuk mulai belajar berdagang, menabung hingga akhirnya
tahun ini dia bisa berqurban dari hasil jarih payahnya sendiri yang dia kumpulkan
selama dua tahun kebelakang. Subhanalloh!
Di satu sisi kita
melihat dan merasakan banyak para remaja bahkan mungkin diri kita sendiri yang
sudah tidak mengenal lagi nilai-nilai kebenaran, terlalu sibuk dengan mengejar
kenikmatan dunia saja sedangkan akhirat sering kita lupakan. Dan di sisi lain
ada seorang pemuda yang sudah menjalankan peran dan fungsinya sebagai seorang
muslim sejati, setiap nafasnya adalah ibadah, setiap langkahnya adalah berkah,
kekuranganya di terima dengan Qana’ah dan keyakinannya yang istiqomah. Pemuda shalih
itu seharusnya diri kita sendiri yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim,
sekarang bukan lagi saatnya mengatakan pengakuan tapi pembuktian sebagai
seorang remaja muslim. Mari kita cambuk hati kita sendiri dengan kesadaran dan
keimanan untuk membuktikan bahwa kita remaja muslim hari ini, esok dan nanti
adalah rahmat bagi semua orang. Berjuang!
Bagus
BalasHapus